BERITA TERAKHIR

Tampilkan postingan dengan label Trans Metro. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Trans Metro. Tampilkan semua postingan

Harga Gabah Naik

Written By Radar Lamsel on Senin, 11 Februari 2013 | 23.10

TANJUNGBINTANG - Harga jual gabah ditingkat petani terus merangkak naik hingga menembus Rp4.900 per kilogram. Hal itu dipicu menipisnya stok gabah petani. Padahal pada akhir satu bulan lalu, harga gabah masih di kisaran Rp3.800 per kilogram.

Selain mininya stok, saat ini petani menghadapi musim paceklik. Tingginya harga jual gabah juga dimanfaatkan oleh sejumlah tengkulak untuk mendapatkan keuntungan besar.

Marwan, salah satu petani di Desa Jatibaru mengaku, tidak memiliki stok gabah dengan jumlah besar karena hampir sebagian besar gabah hasil panen telah dilepas di pasaran sejak beberapa bulan yang lalu. "Meski harga gabah sedang naik, tapi para petani disini tidak mendapatkan untung besar," ungkapnya.

Marwan menabahkan, kenaikan harga gabah di pasaran tidak lepas dari faktor alam yang lagi tidak bersahabat mulai dari kemarau hingga banjir yang harus di hadapi para petani. Areal pertanian yang mengalami gagal panen alias fuso membuat stok gabah juga semakin menipis.

"Karena sedikitnya petani yang panen membuat harga jual gabah kering mengalami kenaikan harga. Wajar harga gabah naik karena stoknya sedikit,” katanya.

Kepala Unit Pelayaan Teknis (UPT) Dinas Pertanian Kecamatan Tanjungbintang Hafizon mengatakan, naiknya harga gabah kering sawah karena besarnya permintaan dan semakin baiknya kualitas padi petani di beberapa desa di Tanjungbintang. “Ini merupakan langkah awal petani bisa sejahtera,” katanyata.(ndi)

Petani Terpuruk Akibat Harga Sawit Turun

JATIAGUNG - Sejumlah petani kelapa sawit di Lampung Selatan, mengeluhkan perekonomian keluarga mereka saat ini semakin tepuruk akibat harga buah sawit di daerah itu yang terus turun dari Rp900 menjadi Rp850 per kilogram.

Seorang petani sawit di Kecamatan Jatiagung, Mulyono, di Desa Margoagung, kemarin, mengatakan sejak harga tandan buah segar (TBS) sawit turun, dirinya semakin kesulitan mendapatkan penghasilan memadai, sehingga terpaksa harus pinjam untuk biaya sekolah anaknya di Bandarlampung.

"Tidak hanya kami, petani lain juga saat ini kesulitan membiayai anak mereka yang bersekolah di Bandarlampung," kata petani kebun sawit yang memiliki lahan seluas setengah hektare itu.

Bahkan, sejak harga buah sawit turun, kata dia, banyak tanaman sawit petani yang tidak lagi terurus dan tidak diberikan pupuk baik jenis KCl maupun urea.

"Jangankan mau kasih pupuk, untuk biaya penyemprotan saja sekarang itu tidak cukup lagi, mengingat uang hasil panen itu untuk makan keluarga kami saja setiap bulan," ujar dia lagi.

Selain itu, dia juga mengeluhkan, kenaikan harga pupuk jenis KCl saat ini menjadi Rp305.000 dari sebelumnya Rp300.000 per karung, termasuk harga pupuk urea dari Rp120.000 menjadi Rp122.000 per karung, isi 50 kilogram.

"Harga pupuk juga sekarang naik, sehingga kami tidak bisa berbuat apa-apa, dan terpaksa kebun sawit itu tidak lagi dipupuk," kata dia pula.

Menurut dia, bila sampai dua bulan ke depan harga buah sawit tidak juga naik, kemungkinan akan banyak warga setempat yang mayoritas sebagai petani sawit terpuruk kondisi ekonominya.

"Tinggal menunggu waktunya saja, sekarang saja sudah 'kembang kempis' kantong kami untuk membiayai keperluan keluarga sehari-hari," ujar dia lagi.

Petani sawit lainnya Santo, berharap pemerintah setempat mencari penyebab penurunan harga buah sawit, seperti di daerah lain dibentuk tim penetapan harga yang langsung ditangani gubernur setempat.

"Harga buah sawit yang rendah itu cuma di Lampung, harga sawit di tingkat petani di beberapa wilayah di luar Propinsi Lampung masih terbilang cukup tinggi yaitu Rp1500. Dia, membandingkan harga buah sawit itu berdasarkan informasi keluarganya yang tinggal di luar Propinsi Lampung.(ndi)

Syiar Islam Lewat Semangat Maulid Nabi

NATAR – Desa Bumisari, Natar, Lampung Selatan (Lamsel) menyelenggrakan kegiatan keagamaan menyambut maulud nabi SAW di Masjid Jami’ At-Taqwa, Sabtu (9/2). Acara rutin tahunan tersebut selain bertujuan untuk meningkatkan silaturahmi antarwarga, juga meneruskan syar islam.

Kepala Desa Bumisari Yosar Supriono, M.M mengatakan, acara tersebut merupakan kegiatan rutin dari majelis ta’lim desa setempat yang tiap tahunnya silih berganti dari dusun satu ke dusun lainnya. “Untuk tahun ini ditempatkan di masjid Jami’ At-Taqwa,” katanya.

Yosar memaparkan, acara keagamaan itu diisi dengan  tausiah serta salawat bersama dari ibu-ibu maupun para bapak-bapak di desa tersebut. “Untuk meneruskan syar islam kemudian menjalin silaturahmi di antara kelompok pengajian terutama bapak-bapak,” imbuhnya.

Selain itu, lanjut Ketua I Apdesi Lamsel ini,  untuk meningkatkan ketaqwaan dan keimanan sebagai wujud pembangunan spiritual masyarakat. Sebab, pembangunan tidak hanya fisik, tetapi menyangkut mental masyarakat. “Ketika mental ini sudah terbangun dengan bagus, dan kondisi fisik dalam keadaan baik pula maka bisa berjalan lancar,” kata Yosar.

Dia berharap dengan rutinitas yang dilakukan pada desanya tersebut bisa membawa berkah bagi masyarakat dan lingkungan desa sehingga apa yang menjadi cita-cita dan harapan pembangunan bisa berjalan sesuai dengan yang diinginkan. “Terpenting adalah mengharap ridho Allah, “ tandasnya.

Acara dihadiri oleh para tokoh agama, tokoh masyarakat, kelompok ibu-ibu dan bapak-bapak pengajian serta aparatur desa setempat dan juga seluruh masyarakat Desa Bumisari. Turut hadir pula pada kesempatan itu Dra. Hj. Bayana, M.Si selaku Camat Natar. (rdo)

Jalinsum Perlu perbaikan

Kondisi Jalinsum yang berlubang dan banyak bergelombang mengakibatkan seringnya terjadi kecelakaan di ruas jalan tersebut.
 

Berlubang dan Bergelombang

NATAR – Kondisi Jalan lintas Sumatera (Jalinsum) semakin memprihatinkan dan membahayakan. Pasalnya,   sepanjang jalan tersebut banyak ditemui lubang. Meskipun seringkali dilakukan perawatan, namun jalan tersebut kembali rusak dan setiap saat dapat mengancam keselamatan pengendara.

Dari pantauan Radar Lamsel, sepanjang jalinsum mulai dari Bundaran Radin Inten II di Desa Hajimena hingga Bandara Radijn Inten II Brantiraya banyak ditemui aspal berlubang. Diameter lubang bervariasi dari yang kecil sampai terkuak cukup besar dan dalam.

Siti Nur Munawaroh, warga Desa Haduyang ini mangaku prihatin melihat kondisi jalan di Jalinsum pada desanya yang kondisinya sangat rusak. Ia mengaku jalan berlubang tersebut seringkali menyebabkan kecelakaan. Bahkan, menurut pengakuannya hampir setiap hari ada insiden kecelakaan yang disebabkan buruknya kondisi ruas jalan tersebut. “Hampir tiap hari mas, sebab kendaraan yang sedang melaju kencang seringkali tiba-tiba ngerem untuk menghindari lubang, nah pada saat seperti itulah sering terjadi tabrakan dengan kendaraan lainnya,” ujarnya kemarin.

Dede—sapaan Siti Nur Munawaroh, melanjutkan, kondisi tersebut  jelas memerlukan perhatian khusus dari pemerintah, supaya tak menimbulkan korban lagi. Sebab, ia khawatir apabila tak segera diperbaiki maka banyak terjadi kecelakaan. “Tolonglah kalau bisa cepat diperbaiki oleh pemerintah,” asa pemiliki RM. Winda ini.

Sebelumnya, keluhan serupa datang dari Samin (45), salah seorang pengendara yang melintas di wilayah tersebut mengaku selalu waspada apabila hilir mudik tiap hari saat hendak bekerja ke Bandarlampung. Pasalnya, ia mengaku pernah hampir terjatuh akibat terkena lubang. “Bahaya kalau gak segera diperbaiki mas, apalagi pengendara sepeda motor seperti saya harus sangat waspada,” katanya.

Dia menambahkan, seharusnya jalan setingkat Jalinsum tersebut dipelihara dengan maksimal dan jangan sampai dalama keadaan rusak. Sebab, ruas jalan itu sangat padat kendaraan dan akses menuju bandara. “Ini kan jalan menuju bandara, harusnya bagus donk,” timpalnya. (rdo)

Industri Rumahan Butuh Perhatian Pemerintah

Industri rumahan masih bertahan dari gerusan harga kebutuhan poko yang terus melambung.


JATIAGUNG - Usaha rumah tangga ternyata tak selalu ikut meredup meski biaya produksi akibat kenaikan berbagai kebutuhan pokok membebani. Kendati begitu, pengusaha itu tetap membutuhkan bantuan pemerintah, baik dalam hal pemasaran maupun permodalan.

Sahlan, salah satunya pelaku home industri di Desa Karangayar, Kecamatan Jatiagung, yang menekuni usaha keripik singkong membuktikan tetap mampu berjalan.

Sama halnya dengan persoalan yang dihadapi pengelola jenis usaha lainnya. pria berusia tahun ini juga ikut merasakan dampak dari melambungnya harga bahan pembuatan keripik singkong, seperti minyak goreng dan singkong. Namun, Sahlan tetap eksis dengan usaha ini.

Dalam sehari, Sahlan yang  sudah tiga tahun menggeluti usahanya mampu memproduksi hingga sekitar 2,5 kwintal keripik singkong. Jumlah produksi lebih tergantung pada ketersediaan singkong yang dijadikan bahan baku keripik.

Sahlan ditemani Istrinya, Ratna kepada Radar Lamsel mengaku, makanan ringan dengan bahan baku singkong kini semakin diminati.

Dia mengaku dalam melakoni usahanya tidak pernah mendapat perhatian pemerintah baik pemasaran maupun permodalan. Dia tetap memegang keyakinan keripik yang diproduksi akan laris terjual dengan jerih payahnya.

“Kalau untuk bahan baku kami tidak kesulitan danjuga dengan pemasaran. Hanya saja dalam memasarkan kami cukup terbatas karena masih belum mengetahui pangsa pasar. Kemudian untuk modal juga kami masih meminjam secara pribadi,” aku Sahlan.

Keripik yang diproduksinya telah dipasarkan hingga ke daerah Metro dan di berbagai pasar di Bandarlampung. “Biasanya para pembeli datang sendiri ke rumah dalam sehari bisa satu kwintal habis terjual. Dimana stiap kilogramnya dijual seharga Rp8.500,” ungkap dia.

Sahlan berharap, pemkab dapat memberikan bantuan untuk usaha yang digelutinya agar menjadi lebih berkembang. “Mewakili pembuat keripik singkong di desanya, berharap agar pemkab dapat memberikan bantuan modal ataupun jaringan pemasaran,” pintanya.(ndi)

Selaraskan Mental Spiritual Masyarakat

Written By Radar Lamsel on Minggu, 10 Februari 2013 | 19.07

NATAR – Desa Bumisari, Natar, Lampung Selatan (Lamsel) menyelaraskan pembangunan infastruktur dengan peningkatan mental spiritual masyarakat setempat. Salah satunya melalui kegiatan-kegiatan keagamaan yang kerap dilakukan pada saat hari-hari besar islam.

Kepala Desa Bumisari Yosar Supriono, M.M mengatakan, pembangunan tak hanya berpaku pada pembangunan fisik infastuktur saja, tetapi juga mental masyarakat yang baik pun harus menjadi bagian dari program pembangunan desa.

“Ketika mental ini sudah terbangun dengan bagus, dan kondisi fisik dalam keadaan baik pula maka program pembangunan yang digulirkan bisa berjalan dengan lancar,”  katanya saat acara Maulid Nabi di masjid Jami’ At-Taqwa, desa setempat, Sabtu (9/2).

Dia mengatakan, selama ini meskipun desanya memang sangat memperhatikan pembangunan yang bersifat fisik, namun mereka pun telah memiliki program dan agenda rutin acara-acara keagamaan yang rutin dilakukan tiap tahunnya. ”Kegiatan di desa ini bukan hanya ini saja, tetapi setiap bulan ada kegiatan pengajian juga dari delapan masjid dan 12 musholla semuanya aktif, yang sifatnya tahunan pun ada,” katanya.

Hal tersebut dikatakannya, sebagai wujud bahwa masyarakat Desa Bumisari menjunjung tinggi ketaatan terhadap Allah SWT, Rasulallah dan Ulil Amri yang di sini merupakan pemerintah setempat, “Dengan terbangunnya ketaatan tersebut, maka dapat membuat kita menjadi waspada terhadap faham-faham yang dapat menyesatkan seperti NII dan semacamnya. Nah dengan adanya kegiatan rohani seperti ini tentunya bisa meminimalir pengaruh menyimpang tersebut,” tutupnya. (rdo)

Musrenbang, Butuh Anggaran Rp 1,2 Miliar

Written By Radar Lamsel on Selasa, 05 Februari 2013 | 22.18

 TANJUNGBINTANG - Alokasi anggaran Kecamatan Tanjungbintang tahun 2013 hingga tahun 2014 sekitar Rp 1,2 miliar,  untuk program pembangunan yang diperuntukan di beberapa desa.

Hal itu disampaikan Camat Tanjungbintang Laila Soraya, MM., M.Si., saat membuka pra Musrenbang Kecamatan Tanjungbintang yang dilaksanakan, Selasa (05/02) di aula Desa Jatibaru kecamatan setempat.

Laila-sapaan Laila Soraya mengatakan, pra Musrenbang Kecamatan Tanjungbintang membahas rencana anggaran yang masuk dalam skala prioritas di 16 desa, yang ada di kecamatan setempat untuk dijadikan rencana anggaran tahun 2014.

"Kecamatan Tanjungbintang pada tahun 2014 dialokasikan anggaran sebesar sekitar Rp 1,2 miliar dengan peruntukan aspek fisik sebesar 70 persen, aspek ekonomi 20 persen dan aspek sosial budaya 10 persen," kata camat itu kemarin.

Laila menjelaskan, dalam forum pra-Musrenbang tersebut dibahas tentang usulan-usulan dari tingkat bawah, tentang perencanaan pembangunan yang harus diprioritaskan pada tahun 2014 mendatang. Serta pembahasan persiapan untuk realisasi pengerjaan program agar tidak terjadi hambatan.

"Kita akan prioritaskan usulan-usulan dari tingkat bawah sesuai dengan porsi anggaran yang telah tersedia nantinya. Untuk itu kita sangat membutuhkan pembahasan dan usulan yang benar-benar dibutuhkan di masyarakat," ujarnya.

Dikatakannya, pra Musrenbang yang digelar hari ini (kemarin-red), akan dibahas kembali  dituangkan dalam Musrenbang yang direncanakan akan digelar tanggal (12/02) mendatang. "Kita akan menuangkan hasil hari ini ke Musrenbang bertujuan agar pembahasan tersebut benar-benar mengarah dan sesuai dengan aturan pemerintah. Karena Musrenbang ini memiliki dasar hukum yang menjadi acuan dalam penyelenggaraannya," paparnya.

Acara Pra Musrenbang di hadiri Camat Tanjungbintang Laila Soraya, FasKab Lampung Selatan Novil Ardi, BKAD Dasman, 16 Kepala Desa, dan wakil masyarakat kecamatan setempat. (Ndi)

Januari, Terdapat 17 Kasus DBD

Waspada DBD

NATAR – Memasuki musim penghujan, berbagai macam penyakit mulai menghantui masyarakat. Salah satu penyakit berbahaya yang biasanya timbul adalah Demam Berdarah Dengue (DBD). Benar saja, pada bulan Januari kemarin saja  di wilayah kerja Puskesmas Brantiraya, Kecamatan Natar, Lampung Selatan (Lamsel) sudah terjaring 17 kasus penyakit yang dibawa nyamuk Aedis Agypti tersebut.

Petugas  Puskesmas Brantiraya Agus  menjelaskan, wilayah kerja Puskesmas setempat yang meliputi lima desa yaitu Desa Mandah, Brantiraya, Candimas, Banjarnegeri dan Haduyang tersebut merupakan daerah endemis DBD. “Daerah kami memang daerah endemis yang tiap tahunnya pasti ditemukan kasus DBD,” katanya mewakili Kepala Puskesmas Brantiraya dr. Puspita.

Dia mengaku jumlah kasus DBD pada bulan Januari 2013 berjumlah 17 terbilang menurun bila dibandingkan pada Januari tahun 2012 sebanyak 54. “Semua dari hasil pemeriksaan Lab di Puskesmas, tempat klinik hingga Rumah Sakit, jumlah ini lebih seidkit dari tahun lalu,” imbuh Agus.

Upaya pencegahan telah dilakukan maksimal, mulai dari penyuluhan lingkungan bersih dan sehat kepada masyarakat, abatesasi sampai dengan fogging. “Kesadaran masyarakat terhadap dampak lingkungan yang apling berpengaruh. Sebab, penyebaran nyamuk DBD dikarenakan lingkungan yang kotor,” papar Agus.

Agus  juga mengutarakan, hujan yang turun tidak menentu menyebabkan banyaknya genangan air sehingga wabah DBD sulit terbendung, diperparah lagi pada sejumlah desa terdapat penampungan rongsokan yang sangat beresiko genangan air terjadi. “Kami harapakan para pengumpul rongsokan kiranya bisa membenahi tempat penyimpanan agar tidak terkena air hujan sehingga tidak menimbulkan genangan air,” katanya.

Selama ini, lanjutnya,  Puskesmas Brantiraya telah melakukan pencegahan dan sosialisasi kepada masyarakat untuk ber- Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). “Rutin  kami lakukan PJB (pemberantasan jentik berkala’red)  di  tiap desa sekaligus menaburkan bubuk abate di rumah-rumah tersebut,” ujar Agus. (rdo)

Imbau Warga Jaga Lingkungan

NATAR – Terkait sedang maraknya kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di sejumlah wilayah Lampung Selatan (Lamsel), aparatur Desa Candimas mengimbau warganya untuk selalu memperhatikan lingkungan dalam keadaan bersih dan sehat. Terutama menekankan pada pemilik usaha rongsokan untuk menutup tampat penampungan sehingga tak tergenang air hujan.

Kepala Desa Candimas Supaing mengatakan, semenjak dilantik sebagai pemimpin desa, ia segera menyusun program pembangunan tak hanya pada aspek infastruktur saja tetapi juga pada lingkungan sosial. “Infrastruktur tetap jadi pertimbangan, namun yang tak kalah penting juga tatanan kehidupan di tengah masyarakat harus diselaraskan,” ujarnya beberapa hari lalu.

Supaing menambahakan, untuk kasus DBD di desanya, memang perlu pengawasan dan pencegahan ekstra mengingat jangkauan wilayah dan jumlah penduduk di desa tersebut yang terbilang besar. “Kami telah mengimbau para Kadus dan RT untuk bergotongroyong bersama masyarakat membersihkan lingkungan di setiap lingkungan rumah. Dengan begitu, diharapkan tak ada tempat nyamuk untuk bersarang dan menimbulkan penyakit,” imbuhnya.

Dia juga konsen terhadap tempat-tempat penampungan rongsokan yang ada didesanya untuk tidak menyebabkan genangan di antara barang-barang bekas yang tak laku terjual. “Sudah kami imbau, apabila ada tempat penampungan rongsokan untuk diberi atap supaya tidak terkena air hujan dan menggenang,” kata Supaing.

Pihaknya berharap, dengan upaya yang dilakukan paling tidak bisa meminimalisir penyebaran penyakit pada musim penghujan kali ini terutama sekali DBD yang sangat membahayakan keselamatan jiwa. “Mudah-mudahan tak terus bertambah, dan jangan sampai menelan korban jiwa,” katanya. (rdo)

Peternak Ikan Diminta Waspada

TANJUNGBINTANG - Peternak ikan di Kecamatan Tanjungbintang dan Tanjungsari diimbau untuk mewaspadai kemungkinan munculnya penyakit akibat jamur, sebagai dampak perubahan suhu pada musim penghujan. Karena hal itu bisa mengakibatkan matinya ikan.

Kepala Unit Pelayanan Teknis UPT Dinas Perikanan, dari dua kecamatan setempat, I Wayan Diarse, mengatakan, adanya fluktuasi suhu dari panas ke hujan, apabila mencapai 5 derajat celcius bisa berakibat fatal. Ikan akan mengalami stres dan mati.

"Selain kualitas air hujan gejala penyakit akibat jamur juga bisa disebabkan air sungai. Makanya perlu diwaspadai karena bisa menyebabkan ikan mati. Untuk mengatasinya, harus memperhatikan dan mengatur sirkulasi air," katanya kemarin.

Kendati demkian, dia menyatakan sejauh ini perubahan suhu baru berkisar antara 2-3 derajat celcius, dan jika ada ikan mati jumlahnya tidak terlalu signifikan.

"Belum ada aduan kematian ikan akibat peyakit jamur dan faktor cuaca dari para petani ikan air tawar di dua kecamatan ini," terangnya.

I Wayan menabahkan, pada umumnya bibit penyakit, apalagi berupa bakteri maupun jamur yang sangat kecil dan sudah tersebar di semua perairan, sukar sekali diberantas sampai tuntas. Karena air merupakan media penular yang membawa bibit-bibit penyakit secara luas.

Cara pencegahanlah yang harus dipahami oleh petani ikan. Ikan akan terhindar dari wabah penyakit apabila ikan selalu dalam kondisi yang baik. Kondisi baik artinya, makanan cukup, keadaan lingkungan baik, bersih dari segala pencemaran, agar ikan-ikan berdaya tahan tinggi untuk membentuk kekebalan alamiah terhadap berbagai penyakit.

"Pencegahan jamur dan bakteri dapat dilakukan dengan cara menjaga kualitas air agar kondisinya tetap baik. Agar ikan tidak terluka, perlakuan hati-hati pada saat pemeliharaan ikan sangat perlu diperhatikan," katanya. (Ndi)

Hujan Deras Sebabkan Embung Jebol

Written By Radar Lamsel on Minggu, 03 Februari 2013 | 22.45

NATAR- Embung (tempat penampungan air) di Dusun Margaraya, Desa Rulungraya,  Kecamatan Natar, Lampung Selatan (Lamsel) jebol. Hal itu menyusul hujan deras semalaman (Jum'at,1/2) membuat air tak mampu tertampung lagi. Akibatnya, sejumlah sawah yang berada di sekitar tanggul rusak tertimbun material bangunan.

Kejadian itu otomatis membuat warga sekitar menderita kerugian, karena rusaknya sawah mereka sehingga padi yang harusnya bisa dipanen kemungkinan besar gagal. Setidaknya,  di sekitar tanggul ada sebelas petak sawah yang rusak parah, dengan  tanaman padi sudah berumur tiga bulan.

Gianto(45), salah seorang masyarakat setempat mengatakan, dia sebenarnya telah mengusulkan untuk tanggul tersebut diberi saluran luapan suapaya tidak jebol apabila debit air tinggi. ”Saya sudah usul sama pelaksananya, tapi usulan saya tidak ditanggapi karna  tidak sesuai dengan ketentuan katanya, dan tanggul ini juga tidak dipadatkan ya cuma gini aja keadaannya. Ternyata, baru dibangun empat bulan sudah jebol,”  paparnya.

Lain hal dikatakan, Bagong (65), warga sekitar tanggul tersebut mengatakan, bahwa sawah miliknya rusak parah karena terkena banjir dan tertimbun matrial tanggul yang  jebol, serta dia binggung akan mengeluh kepada siapa untuk memohon ganti rugi. ”Padi saya rusak semua mas, rugi saya besar, padahal satu bulan lagi sudah bisa panen. Pokoknya, saya minta ganti rugi, kerugian saya sekitar delapan juta-an  mas,” ujarnya.
Sementara itu, Kades Rulungraya Maryoto membenarkan jebolnya embung di desanya, Ia memaparkan, embung tersebut baru dibangun dan belum ada serah terima dari pelaksana dengan pihak desa. Oleh karena itu, ia berharap hal ini bisa segara diatasi. “Embung itu baru dibangun dan masih tanggungjawab rekanan. Belum ada serah terima, jadi kami harap bisa diperbaiki, dan terkait kerugian warga untuk bisa segera diganti,” ungkapnya. (rdo)

Puluhan Rumah Sempat Terendam

Sekdakab Lamsel Drs. Ishak, M.M meninjau lokasi banjir dan embung jebol di Desa Candimas, Desa Haduyang, desa Rulungraya, Kecamatan Natar yang sempat terendam banjir, Minggu (3/2).


NATAR – Puluhan rumah di dua desa pada Kecamatan Natar, Lampung Selatan (Lamsel) sempat terendam banjir pada Jum’at malam (1/3). Hal itu disebabkan meluapnya saluran air di dekat pemukiman warga. Namun, hanya selang beberapa jam kemudian air kembali surut tanpa menimbulkan korban jiwa ataupun luka-luka.

Sejumlah warga dan aparatur desa Candimas dan Desa Haduyang yang terkena dampak banjir sebenarnya telah melakukan upaya pencegahan dengan membersihkan lingkungan. Namun, akibat debit air yang cukup tinggi maka drainase pun tak mampu lagi menampung sehingga meluap ke jalan hingga rumah warga. “Ada penyempitan sungai akibat penimbunan perluasan bandara, di salah satu titik sungai ada pagar kawat yang menyebabkan sampah tertahan sehingga air mengalir tak maksimal,” kata Kades Candimas Supaing.

Supaing memaparkan, di Desa Candimas setidaknya ada 46 rumah warga sempat terendam. Masing-masing di RT 19 ada 19 rumah, RT 21 sebanyak 19 rumah dan RT 20b sebanyak 8 rumah, semuanya berada di dusun III. “Mulai terendam pukul 23.00, tapi pada pukul 03.00 dini hari air sudah kembali surut, kerugian warga tak begitu parah, hanya sebagian dari mereka mengaku kehilangan ternak ayam yang terbawa banjir,” ujarnya.

Sementara itu, di Desa Haduyang, hanya ada kurang lebih sepuluh rumah yang terendam banjir, jumlah tersebut ditambah satu masjid yang berada di pinggir jalinsum desa setempat. “Lokasinya di dusun Sukarame yakni daerah pinggiran rel lereta api, ketinggian air sampai se-lutut orang dewasa, masjid Al-Hidayah ikut terendam,” ujar Kades Haduyang, Hasani.

Hasani mengutarakan, siaga sudah dilakukan sejak pukul 20.00, warga pun telah mengangkut barang-barang milik mereka ke daerah yang lebih aman sehingga tidak ada kerugian yang berarti akibat air yang merendam rumah mereka. “Tak berselang lama air langsung surut, Alhamdulillah tak ada korban,” tandasnya. (rdo)

Maksimalkan Pelayanan Pamong Desa

NATAR - Pamong desa di tingkat RT, Kepala Dusun (Kadus) hingga Kapala Urusan (Kaur) diimbau untuk meningkatkan fungsi pelayanan dan pengawasan terhadap masyarakat. Konsep tersebut demi membangun kehidupan sosial yang berkesinambungan ke arah kesejahteraan masyarakat yang lebih baik.

Hal itu dikatakan Kepala Desa Banjarnegeri Yusuf Hasan, S.E. Dia mengatakan, pamong desa merupakan garda terdepan dalam peningkatqan kesejahteraan. Oleh karenanya, SDM yang menjalankannya pun harus memiliki kredibilitas yang tinggi. “Pergantian  serta peremajan struktural pemerintahan  bertujuan   untuk memberi penyegaran serta pergiliran jabatan agar semua masyarakat dapat mengabdikan diri  pada desanya,” kata yusuf seusai melantik 14 RT,  tujuh Kadus dan lima Kaur di balai desa setempat, Jum’at (1/2).

Yusuf menambahkan, pembaharuan dilakukan agar tejadi penyegaran di lingkungan pemerintahan desa, serta memberi kesempatan pada setiap warga masyarakat  untuk berpengalaman menjadi pamong. “Mengabdi serta turut serta membangun desanya,  jadi bukan hanya orang orang itu saja, juga semua ini adalah upaya  untuk melakukan kaderisasi, untuk perbaikan  pada masa yang akan datang,” imbuhnya.
Dalam kesempatan tersebut, disampaikan pula jabatan pamong desa merupakan pengabdian dan jangan dijadikan untuk meraih keuntungan pribadi semata.  “Diharapkan agar tidak menjadikannya  sebagai sarana untuk mencari keuntungan, serta  dapat bekerjasama dengan memaksimalkal fungsi pelayanan serta fungsi pengawasan, agar tercipta pemerintahan desa yang baik,” ujarnya.
Pihak desa pun saat ini tengah konsentrasi terhadap program-program pembangunan yang mulai disusun untuk mengejar ketertinggalan dari desa lain. Diharpakan seluruh elemen mulai dari aparatur desa hingga masyarakat seluruhnya mendukung demi terciptanya pembangunan yang baik untuk kesejahteraan warga. (Rdo)

Lingkungan Sangat Berperan

Written By Radar Lamsel on Rabu, 30 Januari 2013 | 22.57

Terkait Wabah DBD.

NATAR – Pada saat cuaca peralihan seperti sekarang ini, tidak bisa dipungkiri lagi kalau wabah penyakit mulai menyerang warga, terutama pada lingkungan yang kurang bersih dan sehat. Salah satu penyakit yang mulai menyerang tersebut yaitu Demam Berdarah Dangue (DBD). Oleh karenanya, kepedulian masyarakat terhadap lingkungann sangat berperan dalam mencegah berbagai penyakit.

Dari data yang didapat pada Puskesmas Natar, Lampung Selatan tercatat sudah ada empat penderita dari lima desa yang merupakan wilayah kerja Puskesmas tersebut yakni Negaratu, Bumisari, Natar, Merakbatin dan Rejosari  yang positif terkena DBD pada Januari. Hal tersebut disebabkan pada letak geografis dengan jumlah penduduk yang sangat padat membuat DBD sulit sekali diantisipasi penyebarannya, meskipun dengan upaya yang telah dilakukan semaksimal mungkin.

Kepala Puskesmas Natar dr. Nessi Yunita menjelaskan, pada wilayah kerja puskesnya tersebut merupakan daerah endemis yang setiap tahun pasti ada kasus DBD ditemukan. “Di sini kan daerah endemis, letak geografis, dan juga laju transportasi yang cepat karena disini merupakan lintas kota, hal ini membuat lingkungan sekitar banyak terabaikan, selain itu juga kepadatan penduduk merupakan salah satu faktor penyebaran penyakit ini,” katanya kemarin.

Dia melanjutkan, keadaan lingkungan pun sangat berperan, seperti banyaknya genangan air yang terbuka, saluran air yang tidak mengalir serta banyaknya tempat penampungan barang bekas menyebabkan nyamuk penyebar DBD dapat berkembang biak dengan cepat. “Genangan-genangan air di seputaran tempat tinggal warga dan juga saluran air yang macet akan membuat nyamuk dengan mudah berkembang biak. Ditambah lagi adanya penampungan barang bekas yang tidak tertutup menimbulkan genangan. Semua itu sudah diluar kapasitas kami untuk membenahinya,” paparnya kepada Radar Lamsel. (Rdo)

Brantiraya Siap-Siap Pilakdes

NATAR – Pemerintah Desa Brantiraya, Kecamatan Natar, Lampung Selatan (Lamsel)  bersama panitia Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) tengah menggodok persiapan pesta demokrasi rakyat di desa setempat.

Mulai dari penjaringan Calon Kepala Desa (Cakades) hingga sosialisasi ke masyarakat tengah dilakukan. Pjs Kades Brantiraya Ismaji mengatakan, untuk penjaringan Cakades sudah mulai selesai dan tinggal menunggu pendaftaran saja. Dia mengatakan, hingga saat ini baru incumbent Ahmad Rizal yang sudah mendaftarkan diri untuk maju dalam pilkades. “Panitia masih menunggu pendaftaran dari calon lain,” katanya kemarin (30/1).

Ismaji melanjutkan, kemungkinan besar dari hasil survey di lapangan dan masyarakat Pilkades akan dipertarungkan dua calon saja. “Sepertinya hanya dua calon yang siap maju, tapi tidak menutup kemungkinan muncul calon lain,” imbuhnya.

Dia memaparkan, saat ini pemerintah desa dan panitia konsen pada tahapan yang akan dilaksanakan sesuai dengan aturan yang berlaku. Menurutnya, panitia telah menyusun jadwal kerja yang detail mulai dari penjaringan dan pendaftaran sampai sosialisasi ke masyarakat kerap dilakukan. “Selain melalui kadus-kadus, kami juga mensosialisasikan melalui masjid-masjid tentang agenda Pilkades. Alhamdulilah untuk sementara ini tidak ada gejolak di tengah masyarakat,” kata Ismaji.

Untuk jadwal Pilkades, lanjut Ismaji, kemungkinan besar akan digelar pada akhir Februari mendatang. Hal itu menunggu semuanya sudah siap mulai dari cakades hingga administrasi lainnya. “Kalau sudah masuk pendaftaran calon, kemudian seleksi berkas selanjutnya, persiapan akhir. Ada sekitar 9000-an mata pilih,” tandasnya. (rdo)

Waspadai Makan Berzat Kimia

TANJUNGSARI - Zat berbahaya yang bisa menyebabkan penyakit mematikan seperti kanker bisa saja terdapat pada jajanan pasar atau jajanan anak-anak di sekolah. Karenanya masyarakat diharapkan agar selalu waspada dan mengamati ciri - ciri makanan yang mengandung bahan kimia. 
   
Kepala Pelayanan Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Kecamatan Tanjungsari dr. Putra, menjelaskan khususnya formalin, bahan kimia ini adalah larutan yang tidak berwana dan baunya sangat menusuk. Di dalam formalin terkandung sekitar 37 persen formaldehid dalam air.
   
Biasanya ditambah metanol hingga 15 persen sebagai pengawet. Zat kimia ini biasa digunakan sebagai bahan perekat untuk kayu lapis dan disinfektan untuk peralatan rumah sakit serta untuk pengawet mayat. Formalin juga dilarang keras digunakan untuk pengawet makanan.
   
"Bahaya formalin jika terhirup, mengenai kulit dan tertelan, bisa menyebabkan luka bakar, iritasi pada saluran pernafasan, reaksi alergi, dan bahaya kanker pada manusia. Bila tertelan sebanyak dua sendok makan saja atau 30 ml formalin bisa menyebabkan kematian," katanya.
   
Menurutnya, gejala yang ditimbulkan jika formalin tertelan, maka mulut, tenggorokan dan perut terasa terbakar, sakit menelan, mual, muntah, diare, kemungkinan terjadi perdarahan, sakit perut yang hebat, sakit kepala, hipotensi, kejang, tidak sadar hingga koma. Selain itu, juga bisa menyebabkan kerusakan hati, jantung, otak, limpa, pankreas, sistem susunan syaraf pusat dan ginjal.
   
"Banyak makanan yang beredar luas dipasaran yang bisa saja mengandung bahan berbahaya bagi kesehatan tubuh manusia itu," ujarnya.
   
Beberapa makanan yang banyak ditemukan mengandung formalin diberbagai daerah sebagai pengawet di antaranya mie basah, tahu, baso, ayam dan ikan serta beberapa hasil laut lainnya.
   
Untuk mengetahui apakah beberapa makanan seperti mie, tahu dan bakso berformalin, yakni untuk ciri-ciri mie basah berformalin tidak rusak sampai dua hari pada suhu kamar (25 derajat celcius) dan bertahan lebih dari 15 hari pada suhu lemari es (10 derajat celsius). Tidak lengket dan mie lebih mengkilap dibandingkan mie normal. Bau agak menyengat seperti bau formalin.
   
Kemudian, lanjut dia, tahu berformalin dengan kondisi tidak rusak sampai 3 hari pada suhu kamar 25 derajat Celsius dan bisa tahan lebih dari 15 hari pada suhu lemari es (10 derajat celsius). Tahu terlampau keras, kenyal namun tidak padat. Bau agak menyengat. Seterusnya ikan segar atau hasil laut berformalin yakni tidak rusak sampai 3 hari pada suhu kamar (25 derajat C). Warna insang merah tua tidak cemerlang, bukan merah segar dan warna daging ikan putih bersih. Bau formalin atau agak menyengat.
   
Seterusnya bisa juga terjadi pada ikan asin berformalin, cirinya tidak rusak sampai lebih dari 1 bulan pada suhu 25 derajat celsius. Bersih cerah dan tidak berbau khas ikan asin. Tidak dihinggapi lalat. Yang terakhir ciri-ciri baso berformalin, tidak rusak sampai 2 hari pada suhu kamar 25 derajat celsius, teksturnya sangat kenyal dan bau formalin agak menyengat.
   
"Ciri - ciri itu harus dikenali oleh masyarakat saat membeli. bukan berarti seluruh makanan mengandung bahan kimia, melainkan kita harus lebih jeli dan hati hati dalam memilihnya," paparnya.(ndi)

Ratusan Hektar Tanaman Padi Masih Terendam

Ratusan hektar lahan persawahan warga empat desa di Kecamatan Tanjungsari masih tergenang air banjir,kemarin (30/01)


TANJUNGSARI - Ratusan hektar tanaman padi di Kecamatan Tanjungsari hingga kemarin (30/01) masih terendam banjir.
   
Kepala Unit Pelayanan Teknis (UPT) Dinas Pertanian Kecamatan Tanjungsari Afizon, menyebutkan, ada 263 hektar areal pertanian di empat desa terendam banjir, dan akibatnya 9,5 hektar diantaranya tanaman padi di empat desa tersebut fuso. Keempat desa tersebut adalah Desa Kertosari, Mulyosari, Malangsari dan Bagunsari.
   
"Sudah lima hari ini air banjir masih mengenangi arealapersawahan petani di empat desa tersebut. Akibatnya 9,5 hektar lahan pertanian fuso," katanya Afizon kemarin. 
   
Faktor genangan air ini tak kunjung surut diakibatkan tanggul Sungai Way Galig jebol, dampak banjir yang terjadi pada Jumat (25/01) yang lalu.
   
"Jebolya tanggul semakin memperparah genangan air di 263 hektar areal persawahan petani, bahkan pada hari Senin (29/01) genagan air semakin dalam akibat meluapnya sungai Way Galih," terangnya. 
Afizon melanjutkan, rata-rata usia tanaman padi di empat desa itu mulai dari satu bulan dan satu setengah bulan. Dan diakuinya bahwa pihaknya sudah mendata para petani yang areal persawahanya terendam banjir tersebut dan menyerahkan data tersebut kepada Dinas Pertanian Kabupaten Lampung Selatan.
   
Untuk di ketahui sebelumnya Bupati Lampung Selatan  H. Rycko Menoza. SZP, MBA pada Minggu (27/01) melihat secara langsung kondisi banjir di Kecamatan Tanjungsari, dan pada kesepatan itu bupati mengatakan akan mengusahakan bantuan benih padi kepada para petani yang arel persawahanya terendam banjir tersebut. (ndi)

Dewan Desak Perbaikan Jembatan

Written By Radar Lamsel on Selasa, 29 Januari 2013 | 22.28

TANJUNGBINTANG - Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Lampung Selatan (Lamsel) mendesak pemerintah setempat, untuk segera memperbaikan kerusakan jembatan gantung penghubung dua kecamatan di Desa Purwodadi Simpang, Kecamatan Tanjungbintang, yang rusak berat akibat di terjang banjir bandang beberapa waktu lalu.
    
Sebab, jika kondisi kerusakan itu terus dibiarkan, dapat di pastikan menggangu perekonomian warga, karena jembatan itu sangat vital fungsinya bagi warga Kecamatan Tanjungbintang dan Kecamatan Jatiagung.
 
“Kami berharap Pemkab Lamsel melalui dinas terkait bisa segera memperbaiki kerusakan jembatan penghubung di Dusun Enam, Desa Purwodadi Simpang yang rusak berat akibat diterjang banjir bandang. Karena jika dibiarkan berlarut-larut bisa menggangu aktivitas warga,” papar anggota DPRD Lamsel Pramono Adi, Selasa (29/01).
 
Selain perbaikan jembatan, anggota Komisi C DPRD dari Fraksi Partai Golkar ini juga meminta dinas terkait, untuk turut memperbaiki gororng-gorong yang amblas di jalan pasar Desa Jatibaru. "Sebab jika kerusakan gorong-gorong itu tidak diperbaiki, maka ketika hujan turun aliran air di gorong-gogorong tersebut tersumbat dan airnya meluap ke jalan," terangnya.
 
Oleh karenanya wakil rakyat ini meminta dinas terkait untuk memprioritaskan kedua usulan tersebut, karena sifatnya sangat mendesak mengingat kondisi cuaca yang terjadi akhir-akhir ini sangat tidak bersahabat.
 
Seperti diberitakan sebelumnya, hujan deras yang mengguyur beberapa kawasan di Kabupaten Lamsel, Jumat (25/01) sore lalu telah berdampak meluapnya aliran sungai, termasuk Sungai Triplek di Kecamatan Tanjungbintang.
 
Selain sempat merendam beberapa desa juga merusak jembatan gantung yang berada Desa Purwodadi Simpang. saat ini kondisi lantai jembatan ikut turun sehingga tidak bisa lagi dilewati sama sekali.
 
Jembatan berukuran 2 x 35 meter itu, sangat strategis sebagai penghubung antar Desa Margoagung, Kecamatan Jatiagung dan Desa Purwodadi simpang, Kecamatan Tanjungbintang.(ndi)

Butuh Sarana Pertanian

NATAR – Desa Mandah, Kecamatan Natar, Lampung Selatan (Lamsel)  masih sangat membutuhkan sarana di bidang pertanian. Mulai dari alat pertanian hingga program-program pembangunan jalan sebagai akses ke lahan garapan warga perlu dipriotaskan pemerintah daerah setempat. Hal ini dikarenakan mayoritas penduduknya menggantungkan hidup dari bertani.

Begitulah yang dikatakan oleh Kepala Desa Mandah Sutris. Ia menganggap, pada desanya itu masih perlu perhatian terutama pada kelengkapan alat pertanian dan faktor pendukung seperti akses jalan hingga penampungan air (embung). “Dikarenakan masyarakat Mandah adalah petani oleh karenananya kelengkapan sarana pertanian menjadi penting,” katanya beberapa hari lalu.

Tujuannya,  lanjut Sutris,  untuk meningkatkan kemampuan masyarakat di bidang perekonomian. Dengan meningkatnya ekonomi masyarakat maka program pemerintah lebih mudah digulirkan. “Secara  otomatis dengan ringan tangannya masyarakat dapat membantu pembangunan di daerah ini,” kata imbuhnya.

Dia melanjutkan, dengan adanya sarana yang mendukung para petani di desanya maka akan memudahkan untuk peningkatan hasil bumi, sebab selama ini para petani merasa masih sangat kesulitan untuk memaksimalkan potensi yang ada dengan keterbatasan alat pertanian. Terlebih juga mereka kesulitan memenuhi kebutuhan air di ladangnya bila musim kemarau. 

“Kami harap selain pembangunan infrastruktur jalan, sarana pertanian pun  bisa menjadi perhatian pemerintah dan dimasukkan sekala prioritas musrenbang tingkat kecamatan supaya bisa terealisasi,” ujarnya. (rdo)

Natar Masih Aman Banjir

NATAR – Wilayah Kecamatan Natar, Lampung Selatan (Lamsel) masih aman dari bencana banjir yang mulai melanda berbagai wilayah di Lampung. Di kecamatan terluas di Kabupaten Berjuluk Serambi Sumatera tersebut belum terlihat adanya genangan banjir yang sampai mengganggu aktivitas warga.

Seperti diutarakan Kepala Desa Negararatu Herry Putra, M.M. Dia mengatakan, di desanya hingga saat ini masih terhindar dari yang namanya air bah tersebut, baik persawahan maupun ruang lingkup perumahan tempat tinggal warga tak terdapat genangan banjir seperti di kecamatan lain pada kabupaten setempat. “Alhamdulillah sampai saat ini masih aman, mudah-mudahan walaupun hujan dengan intensitas tinggi tak membuat sawah dan lingkungan tempat tinggal warga terendam,” katanya kemarin.

Nggung-sapaan akrab Herry Putra menambahkan, meskipun tak terjadi banjir namun pihaknya tetap waspada dan melakukan pencegahan dengan cara membersihkan drainase-drainase yang ada di setiap dusun. “Setiap dusun kami instruksi untuk bersih-bersih lingkungan,” tandasnya.

Senada pengakuan dari Kades Rejosari Sudarto. Dia mengaku bahwasannya di desanya masih aman dari banjir. Sebab, di desa yang memiliki kebun sawit milik PTPN 7 tersebut masih terdapat banyak resapan air sehingga meminimalisisr terjadinya banjir. “Sejauh ini masih aman-aman saja,” katanya.

Penyataaan dari dua Kades tersebut diamini oleh Sekertaris Kecamatan Natar Risko Irawan yang mengatakan bahwa Natar masih terbilang aman dari bencana banjir. “Sampai saat ini belum ada laporan ke saya dari desa  yang menyebutkan adanya genangan banjir di desa mereka,” singkatnya.

Sebelumnya Camat Natar Dra. Hj. Bayana, M.Si telah mengimbau dan mengajak aparatur desa serta warganya untuk mewaspadai ancaman dampak lingkungan yang buruk pada saat memasuki musim penghujan seperti sekarang ini. Drainase yang baik dan kebersihan lingkungan menjadi fokus mereka dalam hal upaya pencegahan bencana banjir.

Dia juga menegaskan kepada warga untuk tidak memakai bantaran atau badan sungai untuk mendirikan bangunan. Jangan menimbun dan mengambil garis badan sungai sehingga ketika hujan turun dengan deras maka sungai tidak mampu menampung debit air yang tinggi. “Ini kan bisa  menyebabkan meluap dan banjir. Nah kesadaran warga seperti inilah yang harus  dibangun,” seru Bayana beberapa waktu lalu. (Rdo).
 
Copyright © 2013. Radar Lamsel - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website